PADANG | Dosen senior UNES Dr. Otong Rosadi mengatakan, perguruan tinggi atau kampus perlu mengembangkan kekhasan dalam keberadaannya, selain kekhasan pada kurikulum dan proses pembelajarannya. Karena selain kualitas, kekhasan adalah modal utama kampus untuk menarik minat mahasiswa untuk belajar di sana.
"Kampus itu tidak hanya tempat berseminya bidang ilmu pengetahuan, tehnologi, sains, dan seni. Kampus juga harus menumbuhkan karakter khususnya atau ciri khasnya", ungkap Otong Rosadi.
Dan bila nanti Univeratitas Tan Malaka sudah berdiri, almamater harus dapat memunculkan gagasan, ide-ide, cara baik, dan strategi ke khususannya sesuai dengan namanya atau karakter kekhususan tersebut.
"Dulu, Tan Malaka berpendapat bahwa pendidikan adalah sebuah usaha untuk membebaskan manusia dari kesengsaraan, ketertindasan, dan ketidaktahuan, menjadikan hidup lebih bermanfaat bagi diri sendiri dan sekitarnya, tidak ada lagi kasta dan pembeda kelas-kelas, mungkin pemikiran dari "Bapak Republik Indonesia" ini dapat dijadijan sebagai kekhususan Universitas Tan Malaka nanti", akhir Otong Rosadi.
Senada dengan itu, Anul Zufri, SH, MH, Ketua DPW MOI Sumbar menjelaskan, "Kini tinggalah kepada kita sebagai generasi yang sudah merdeka ini untuk mengisinya dengan pembangunan. Termasuk pembangunan di bidang pendidikan. Dan keinginan dari beberapa kawan-kawan yang telah memprakasai berdirinya Yayasan Ibrahim Tan Malaka, yang kini tengah fokus untuk pendirian Universitas, tentunya hal ini sangatlah tepat sebagai bentuk penghargaan kepada Bapak Republik Indonesia tersebut", ungkapnya.
Apalagi pendidikan itu merupakan hak semua rakyat, yang telah diatur dalam UUD 1945. Mungkin melalui Yayasan Pendidikan Tan Malaka hal itu akan terwujud nantinya. Untuk itu, mari dukung pendirian lembaga pendidikan Tan Malaka ini. Sebagaimana pemikirannya bahwa pendidikan adalah sebuah usaha untuk memerdekan manusia dari kesengsaraan, ketertindasan, dan ketidaktahuan, urai Anul.
"Pendidikan itu merupakan hak semua rakyat yang telah diatur dalam UUD 1945. Mungkin melalui Yayasan Pendidikan Tan Malaka hal itu akan dapat terwujud nantinya. Untuk itu, mari dukung pendirian lembaga pendidikan Tan Malaka ini, karena pendidikan adalah sebuah usaha untuk memerdekan manusia dari kesengsaraan, ketertindasan, dan ketidaktahuan".
PERJUANGAN untuk mendirikan Universitas Tan Malaka di Kabupaten Limapuluh Kota sebenarnya sudah bertahun-tahun dilakukan oleh Gonjong Limo organisasi sosial kemasyarakatan dan perantau Minang asal Kota Payakumbuh dan Kabupaten 50 Kota. Namun hingga saat ini, harapan itu belum jua terwujud.
Kendati demikian pengurus organisasi yang didirikan pada 12 Mei 1960 itu tak pernah patah semangat. Bahkan pada tahun 2019 lalu gagasan itu diapungkan kembali oleh guru besar ilmu ekonomi Universitas Andalas (Unand) Padang, Prof. Dr. Syafruddin Karimi, SE, MA saat saat silaturahmi dan musyawarah Gonjong Limo Padang, Sabtu 13 Juli 2019 bertempat di Aula Hospitality Center UNP, Air Tawar – Padang, namun hingga kini Universitas Tan Malaka tersebut masih belum juga terwujud.
Saat itu Prof Syafruddin Karimi mengatakan, langkah untuk mendirikan Universitas Tan Malaka tinggal selangkah lagi, hanya tinggal menunggu Instruksi Presiden (Inpres).
“Bila Inpres ini sudah dikantongi, maka berdirilah Universitas Tan Malaka dari gabungan Unand yang berkampus di Payakumbuh dan Politani di Tanjung Pati. Dasar, atau cikal bakal yang akan menjadi Universitas Tan Malaka itu sudah ada. Jadi tidak susah-susah lagi. Tinggal sekarang pengusulan dari Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh ke Presiden untuk dikeluarkan Inpres-nya,” kata Prof. Syafrudin Karimi yang juga diamini oleh Ketua Gonjong Limo Padang, Prof. Ganefri, Ph.D pada wartawan media ini pada saat itu.
Baik Prof. Syafruddin Karimi maupun Prof. Ganefri saat itu sama-sama meyakini bahwa Universitas Tan Malaka tersebut akan dapat terealisasi, karena untuk Bung Karno, Bung Hatta dan M. Yamin sudah ada nama universitasnya, tinggal lagi Universitas Tan Malaka.
Gayung pun bersambut, mantan Rektor Unand Prof. Dr. H. Werry Darta Taifur, SE, MA pun memberikan dukungan. Menurutnya untuk pendirian universitas itu minimal sudah ada 10 program studi.
“Dengan adanya Fakultas Ekonomi, Universitas Andalas Kampus 2 Payakumbuh dan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh (Politani Payakumbuh), pendirian Universitas Tan Malaka sebenarnya sudah dapat diwujudkan, karena sudah cukup syaratnya, bahkan lebih,” kata Prof. Werry.
Kendati perjuangan untuk mendirikan Universitas Tan Malaka ini teramat panjang dan melelahkan, namun Ketua Yayasan Ibrahim Tan Malaka (Ibratama) yang juga mantan Wakil Bupati Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan masih optimis Universitas Tan Malaka akan berdiri.
Rasa optimis itu diungkapkan Ferizal Ridwan bersama Ketua DPRD Limapuluh Kora Deri Asda S.Si, saat berdiskusi dengan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) perkumpulan perusahaan Media Online Indonesia (MOI) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), di kantor Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumbar, Alai Parak Kopi, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Jum’at (2/9/22).
Dalam diskusi yang juga dihadiri oleh Ketua LKAAM Sumbar, Dr. Fauzi Bahar Datuak Nan Sati tersebut, Ferizal Ridwan mengatakan, akta notaris Yayasan Ibrahim Tan Malaka (Ibratama) sudah ada.
Ia mengatakan, Yayasan Ibrahim Tan Malaka tidak hanya berfokus kepada pendirian universitas saja, tapi juga bagaimana membumikan pemikiran-pemikiran Tan Malaka kepada generasi penerus.
“Yayasan Ibratama melibatkan banyak tokoh seperti, Rizki Adam sebagai Pendiri, termasuk pihak ahli waris gelar adat Dt Tan Malaka, yakni Hengki Novaron Dt Tan Malaka,” kata Ferizal Ridwan.
Bahkan kata dia menambahkan, lahan pembangunan untuk Universitas Tan Malaka seluas 10 hektar yang terletak di jalan lingkar Boncah Batubalang-Ketinggian, Sarilamak, Kecamatan Harau telah disiapkan pula.
Begitu tingginya keinginan Ferizal Ridwan mengabadikan nama Tan Malaka dengan mendirikan perguruan tinggi, ia pun berupaya menggandeng para tokoh Sumatera Barat secara umum, para pengagum dan simpatisan Tan Malaka di seluruh tanah air, agar terus konsisten membumingkan nilai-nilai perjuangan serta pemikiran Tan Malaka tersebut.
“Obsesi ini menjadi perjuangan bersama selaku putra daerah, praktisi, penggiat sejarah, pengagum dan simpatisan Tan Malaka. Kami juga mohon do’a serta dukungan, bagaimana cita-cita kita ini dapat benar-benar bisa terwujud,” ujar Ferizal Ridwan dalam diskusi tersebut.
